Harga minyak AS turun dari tertinggi 2019 karena produksi melonjak

New York (ANTARA) – Harga minyak mentah berjangka AS sedikit menurun pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah mencapai tingkat tertinggi 2019 karena kekhawatiran tentang ekonomi global dan produksi AS yang kuat membuat harga tergerus.

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 0,09 dolar AS menjadi menetap pada 58,52 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, setelah mencapai level tertinggi mereka tahun ini di 58,95 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun 0,07 dolar AS menjadi ditutup pada 67,16 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, di bawah tingkat tertinggi 2019 di 68,14 dolar AS yang dicapai pada Kamis (7/3).

Minyak mentah AS mengakhiri minggu ini 4,1 persen lebih tinggi, dan Brent naik 1,9 persen.

“Pasar mengambil jeda ketika mencoba untuk mencerna laporan beragam yang memberi kami ide berbeda tentang penawaran dan permintaan di masa depan,” kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures group di Chicago. “Pertemuan OPEC-plus bisa memberi kita sedikit arahan,” katanya.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya termasuk Rusia, aliansi yang dikenal sebagai OPEC+, pada tahun lalu setuju  untuk memangkas produksi, sebagian sebagai tanggapan terhadap peningkatan produksi minyak serpih AS.

Para menteri OPEC+ akan bertemu pada 17-18 April untuk memutuskan kebijakan produksi.

“Jika OPEC+ memutuskan untuk memperpanjang (pemotongan) … kami perkirakan bahwa persediaan akan terus disedot setidaknya hingga kuartal ketiga,” kata bank investasi AS Jefferies.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada Jumat (15/3) bahwa pasar dapat menunjukkan surplus moderat pada kuartal pertama 2019 sebelum membalik defisit pada kuartal kedua sekitar 0,5 juta barel per hari (bph).

Dikatakan pasokan yang cukup oleh OPEC dapat mencegah kenaikan harga jika terjadi gangguan dan pertumbuhan produksi minyak non-OPEC yang dipimpin oleh Amerika Serikat dapat memastikan permintaan terpenuhi.

Perusahaan-perusahaan energi AS minggu ini mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi selama empat minggu berturut-turut, dengan pengeboran melambat ke level terendah dalam hampir setahun, mendorong pemerintah untuk memotong perkiraan pertumbuhan produksi minyak mentah.

Pengebor memotong satu anjungan minyak dalam seminggu yang berakhir 15 Maret, sehingga jumlah totalnya turun menjadi 833 rig, terendah sejak April 2018, kata perusahaan jasa energi General Electric Co Baker Hughes dalam laporannya yang dipantau secara ketat Jumat (15/3).

Kenaikan harga minyak telah dibatasi oleh kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi yang telah mencengkeram sebagian besar Asia dan Eropa akan mengurangi pertumbuhan permintaan bahan bakar.

Tetapi konsumsi minyak telah bertahan sejauh ini.

Penggunaan minyak mentah di China, importir terbesar dunia, dalam dua bulan pertama 2019 naik 6,1 persen dari tahun sebelumnya menjadi 12,68 juta barel per hari, data resmi menunjukkan minggu ini.

Goldman Sachs mengatakan pertumbuhan permintaan global untuk minyak mentah pada Januari adalah “hampir 2,0 juta barel per hari, dengan kekuatan terlihat di pasar negara-negara berkembang dan negara maju.”

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019