Saham-saham Asia “tidur” karena tidak ada penggerak pasar

Sydney (ANTARA News) – Pasar saham Asia dalam suasana tenang pada perdagangan Kamis pagi, dan tampak siap untuk sesi “tidur” karena China masih libur dan tidak ada data ekonomi utama pada buku harian.

Indeks MSCI yang lebih luas dari saham-saham Asia-Pasifik di luar Jepang, sedikit bergerak di awal perdagangan setelah berakhir hampir tidak berubah pada perdagangan Rabu (6/2).

Nikkei Jepang turun 0,2 persen, sedangkan E-Mini berjangka untuk S&P 500 turun 0,06 persen dalam perdagangan yang sangat tipis.

Wall Street sudah tertidur melalui sesi yang tenang, meskipun perkiraan pendapatan mengecewakan memukul saham-saham pembuat videogame utama.

Electronic Arts Inc jatuh 13,3 persen dan Activision Blizzard Inc merosot 10,1 persen.

Dow turun 0,08 persen, sementara S&P 500 kehilangan 0,22 persen dan Nasdaq turun 0,36 persen.

Baca juga: Bursa Wall Street turun di tengah pidato Trump dan laba perusahaan

Pasar masih menunggu perkembangan dalam sengketa perdagangan China-AS setelah Presiden Donald Trump menawarkan sedikit hal baru untuk dipertimbangkan dalam pidato kenegaraannya.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan pada Rabu (6/2) bahwa ia dan pejabat AS lainnya akan melakukan perjalanan ke Beijing minggu depan untuk pembicaraan perdagangan, yang bertujuan mencapai kesepakatan untuk mencegah kenaikan tarif di AS pada barang-barang China pada 2 Maret.

Di pasar mata uang, penggerak awal adalah dolar Selandia Baru yang merosot setelah data lokal menunjukkan pengangguran, kenaikan pekerjaan dan pertumbuhan upah semua meleset dari perkiraan.

“Angka-angka menyajikan gambaran yang lebih moderat dari pasar tenaga kerja selama setahun terakhir,” kata Michael Gordon, ekonom senior di Westpac, dikutip dari Reuters.

“Pertumbuhan lapangan kerja lemah dan jam-jam kerja meningkatkan risiko mencetak ekonomi lemah lainnya pada kuartal Desember.”

Kiwi merosot ke 0,6772 dolar AS, kehilangan 1,6 persen dalam 24 jam terakhir, karena investor mempersempit peluang penurunan suku bunga.

Obligasi menguat, dengan imbal hasil obligasi dua tahun turun 7,00 basis poin menjadi 1,67 persen, jauh di bawah suku bunga 1,75 persen.

Bank sentral Selandia baru, Reserve Bank of New Zealand, mengadakan pertemuan kebijakan pertama tahun ini minggu depan dan pasar bertaruh akan mengambil sikap dovish.

Tetangganya, bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA), menyebabkan riak pada Rabu (6/2) ketika menahan bias pengetatan lama dan menunjukkan langkah selanjutnya dalam suku bunga yang bisa saja turun seperti naik.

Dolar Aussie turun 1,8 persen menjadi 0,7110 dolar AS dan memberikan perangsang yang luas untuk dolar AS.

Indeks dolar AS kini telah naik untuk lima sesi berturut-turut mencapai 96,400, memulihkan hampir semua kerugian yang diderita setelah Federal Reserve meninggalkan rencana untuk kenaikan suku bunga lebih banyak.

Baca juga: Dolar AS menguat setelah pidato kenegaraan Trump

Yang kurang beruntung adalah euro, terseret kembali ke 1,1366 dolar AS setelah angka suram pada produksi industri Jerman.

Dolar AS tidak bisa membuat kemajuan terhadap yen, yang diuntungkan dari status “safe-haven”-nya sendiri, dan tak berubah di 109,93.

Penguatan luas masih memberi tekanan terhadap emas, yang melemah menjadi 1.306,84 dolar AS per ounce, tergelincir lebih jauh dari puncak minggu lalu di 1.326,30 dolar AS.

Baca juga: Tertekan penguatan dolar AS, harga emas turun jadi 1.314,4 dolar/ounce

Harga minyak didukung oleh tanda-tanda kuatnya permintaan AS untuk produk sulingan dan pengetatan pasokan minyak mentah global.

Minyak mentah berjangka Brent naik 71 sen pada Rabu (6/2) menjadi menetap di 62,69 dolar AS dan belum diperdagangkan di Asia. Minyak mentah AS melemah 6,00 sen AS di Asia menjadi 53,95 dolar AS per barel.

Baca juga: Minyak Brent naik jadi 62,69 dolar/barel didorong pengetatan pasokan global
Baca juga: Bursa Tokyo dibuka lebih rendah, indeks Nikkei turun 0,26 persen

Pewarta:
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019